Invasi Industri Kreatif Indonesia ke Dunia Lewat Rempah? Bisa Nggak Sih?

Indonesia memang sudah lama terkenal sebagai penghasil rempah di dunia. Nggak heran kalau dulu bumi pertiwi sampai dijajah ratusan tahun demi ini. Nah, dengan sumber daya tersebut, pemerintah berusaha melebarkan industri kreatif Indonesia ke dunia.

Ternyata ada banyak cara untuk mengembangkan industri kreatif, termasuk dengan memperkenalkan rempah-rempah lewat program yang bernama Indonesia Spice Up The World (ISUTW). Bahkan program ini didukung oleh semua kementerian. Keren, kan?! Tapi pasti belum banyak yang paham tentang program ini. Kalau begitu, yuk disimak!

Peluang Industri Kreatif Indonesia Lewat Rempah Nusantara

1. Kenalkan Bumbu Indonesia

Sering nggak, waktu kalian makan masakan Eropa atau Amerika dan terasa tasteless kayak kurang bumbu gitu? Bagi kamu yang emang udah lidah Indonesia banget pasti susah kalau harus ketemu makanan dengan bumbu yang minim.

Sebab, masakan Indonesia terkenal sebagai makanan yang memiliki rasa serta aroma yang sangat kuat. Hal ini tentu saja berhubungan dengan pemakaian rempah-rempah yang cukup banyak. Nggak cuma asin dan manis aja, tapi juga ada pedas, asam, gurih dan pastinya wangi.

Bahkan pedas juga nggak cuma bisa tercipta dari lada aja, tetapi pastinya cabai. Wangi masakan bisa datang dari banyak bahan, misalnya kapulaga, kencur, cengkeh dan masih banyak lagi. Jadi ya nggak heran kalau rasa masakan Indonesia itu khas banget.

Makanya, pemerintah berencana untuk meningkatkan pemasaran produk bumbu, panganan olahan hingga rempah Nusantara ke berbagai belahan dunia. Apalagi pasar luar negeri juga sejak lama membuka diri untuk masuknya rempah-rempah ini, terutama Afrika dan Australia.

2. Gastrodiplomasi Restoran

Nggak cuma itu aja. Kuliner dan rempah Indonesia juga diharapkan bisa jadi duta gastrodiplomasi. But wait, apa itu gastrodiplomasi? Arti sederhana dari istilah ini adalah diplomasi yang dilakukan dengan cara memperkenalkan kuliner, budaya esensi nasional lainnya ke dunia luar.

Keren banget emang Indonesia Spice Up The World ini. Bahkan, menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, program ini juga diharapkan bisa mengembangkan dan menguatkan restoran Indonesia di mancanegara.

Nantinya bakalan berimbas pada meningkatnya ekspor, utamanya rempah-rempah nusantara. Hal ini mengingat dari tahun ke tahun, kegiatan ekspor bumbu, serta rempah segar maupun olahan semakin meningkat.
Bahkan pada tahun 2020 kemarin, nilai ekspor dari komoditas ini berkisar antara 1,02 miliar dolar Amerika Serikat. Bisa dibilang, selama lima tahun terakhir, terjadi peningkatan ekspor rempah sebesar 2,95%. Pertumbuhan industri kreatif di Indonesia cabang kuliner ini tentunya membanggakan.

Target Program ISUTW

1. Ribuan Restoran di Luar Negeri

Target terdekat program ini adalah hadirnya 4.000 restoran Indonesia di mancanegara yang mengikuti program ISUTW. Selain itu, program ini juga berfokus pada peningkatan ekspor bumbu olahan, rempah dan juga kuliner Indonesia.

Jadi siapa bilang bahwa kuliner nggak bisa jadi contoh industri kreatif yang potensial? Justru karena kuliner memiliki pangsa pasar yang luas, maka program ini hadir dengan menggandeng pihak yang nggak kalah besar.

Nama seperti Garuda Indonesia dan Bank BNI adalah mitra dari kemenparekraf dalam pengadaan program ISUTW ini. Maskapai kebanggan Indonesia tersebut bertugas sebagai bagian logistik sedangkan untuk pendanaan dipegang oleh bank BUMN tersebut.

2. Proyek Berjalan

Pilot project dari program ini jatuh kepada rendang. Siapa sih yang nggak kenal makanan ini? Bahkan rendang udah sempat dinobatkan sebagai makanan terenak nomor 1 di dunia versi CNN. Selain rendang, ada pula bumbu nasi goreng, sate, soto dan gado-gado.

Terus untuk bumbu lainnya, tentunya ada si primadona, pala dan cengkeh. Mengekor di belakangnya ada jahe, lada, kayu manis dan vanilla. Nggak lupa juga kecap manis dan kacang tanah ikut diperkenalkan ke mancanegara.

3. Fasilitas Kemitraan

Buat pemilik restoran Indonesia di luar negeri, khususnya mereka yang termasuk dalam program ISUTW, ada banyak fasilitas yang didapatkan dari pemerintah, lho! Salah satunya adalah bantuan untuk desain ulang usaha, termasuk ke dalam bantuan branding dan juga promosi.

Nggak cuma itu, pemilik restoran juga bakalan dimasukkan ke dalam jaringan penyedia bumbu dan rempah. Jadi nggak perlu bingung lagi cari rempah, sebab nantinya stok dan juga pengadaan bakalan dipantau dan dibantu pengadaannya.

Masih kurang? Tenang, masih ada kok. Pengusaha restoran juga bakalan dapat pelatihan dan pendampingan agar usahanya bisa berkembang. Nggak tanggung-tanggung, pelatihan tersebut bakalan dilakukan bersama chef terkenal dan profesional.

Caranya bisa bermacam-macam, mulai dari daring, hybrid atau nggak menutup kemungkinan dengan luring. Tapi tentu saja, pelatihan luring hanya bisa dilakukan kalau pandemi sudah teratasi.

Sebagai salah satu pondasi industri kreatif Indonesia, maka kuliner dan rempah nusantara terus diperkenalkan. Hal ini nggak hanya mendorong berkembangnya restoran dan meningkatnya ekpor tetapi juga menarik wisatawan asing untuk datang ke Indonesia guna menangkal rasa asli makanan dan rempah tersebut.