Penanganan Biji yang Disimpan di Pertanian

Berdasarkan data dari departemen pertanian Amerika Serikat, petani di Pennsylvania mengalami kerugian panen sebesar 10% dari waktu pemanenan hingga biji diproses.

Kerugian panen yang dialami oleh petani tersebut disebabkan oleh adanya infestasi serangga pada biji yang disimpan di gudang. Sebagian besar kerusakan oleh serangga atau kontaminasi dapat dihindari jika petani menerapkan beberapa teknik manajemen pengendalian hama.

Potensi terjadinya kerugian menjadi berkurang tiga kali lipat ketika petani menerapkan teknik manajemen untuk penanganan hama ulat pada biji jagung dan daun tanaman kentang.

Sanitasi

Perlindungan biji diawali dari proses manajemen yang layak terhadap biji yang disimpan dengan sanitasi wadah penyimpanan biji benih, peralatan, dan lingkungan di sekitar gudang penyimpanan sebelum benih dipanen.

Setiap wadah penyimpanan biji benih harus dikosongkan dari sisa-sisa tanaman pada musim sebelumnya dan dibersihkan secara cermat sebelum biji yang baru disimpan di dalam wadah tersebut. Pembersihan area dalam gudang juga perlu dilakukan secara merata.

Area dalam gudang yang berpotensi dijadikan sarang hama seperti dinding, lantai, atap, dan cerobong asap harus dibersihkan dari debu dan sisa kotoran biji dari proses penyimpanan sebelumnya untuk menghindari adanya hama.

Bahan kimia juga dapat digunakan jika terdapat kesulitan dalam membersihkan dengan cara biasa atau pada kondisi tertentu. Proses sanitasi juga harus dibarengi dengan pengamatan yang cermat terhadap area di sekitar gudang yang berpotensi terdapat serangga. Serangga dapat bersembunyi di tumpukan biji, area berumput, dan karung biji yang terdapat di area sekitar gudang yang telah terkontaminasi.

Jika terdapat habitat-habitat serangga, maka harus segera dilakukan pembasmian seperti pembakaran, penguburan, dan pemotongan bagian yang terkontaminasi atau dijadikan habitat oleh serangga.

Serangga biasanya mengkontaminasi peralatan panen dan bertahan di dalam residu sisa biji. Jika residu tersebut tidak dibersihkan, maka pengisian biji pertama dari biji yang baru dipanen akan berisi serangga yang dapat menginfestasi gudang biji. Semua langkah sanitasi yang diambil akan sia-sia jika tidak dilakukan pemantauan terhadap peralatan panen dan pembersihan sumber-sumber yang berpotensi menyebabkan infestasi serangga.

Kondisi biji

Kondisi biji juga ikut menentukan keberhasilan proses perlindungan biji. Banyak serangga secara khusus pada tahap belum dewasa, mendapatkan makanannya dari kernel biji yang rusak dan debris yang ada pada wadah penyimpanan biji.

Proses pembersihan wadah penyimpanan biji sebelum menempatkan biji di dalamnya, dapat menyingkirkan sebagian besar sumber makanan serangga.

Biji yang bersih juga dapat memudahkan proses aerasi berlangsung. Kecuali wadah penyimpanan biji memiliki sistem distribusi, sebagian besar material halus berakhir pada bagian bawah kolom penyimpanan biji.

Udara akan sulit mengalir ke dalam wadah biji jika bagian tengah wadah biji tidak memiliki celah yang cukup untuk dilewati oleh udara. Konsekuensinya yaitu bagian tengah wadah biji biasanya memiliki kelembaban yang tinggi dan panas yang menyebabkan terjadinya aktivitas serangga.

Ketika biji diisikan ke dalam wadah, biji harus diletakkan pada posisi atas. Jika tidak maka pergerakan udara akan menjadi sedikit dan akhirnya biji menjadi tidak teraerasi dengan baik dan mudah menjadi lembab dan ditumbuhi oleh jamur dan menjadi panas.

Manajemen lingkungan

Perlindungan biji juga didukung oleh manajemen lingkungan gudang yang baik. Ekosistem biologis pada wadah penyimpanan biji harus dikendalikan dengan adanya pengaturan sistem yang baik.

Manajemen lingkungan sekitar penyimpanan biji dilakukan dengan mengontrol temperatur, kelembaban, serangga, fungi, dan bakteri. Biji yang sudah dipanen normalnya memiliki kandungan air sebesar 15-30% ketika disimpan di dalam wadah penyimpanan biji.

Pengeringan biji digunakan untuk menghasilkan kelembaban di bawah 13% atau kurang untuk penyimpanan yang aman. Kebanyakan organisme biologis seperti serangga, fungi, dan bakteri tidak dapat tumbuh dengan baik pada kadar air kurang dari 15%.

Reproduksi dan laju perkembangan mereka mengalami penurunan yang signifikan dan menghasilkan pertumbuhan populasi yang lambat. Namun, pengeringan biji di bawah kadar air 13% akan menghasilkan pengurangan berat biji ketika dijual nantinya.

Temperatur juga mempengaruhi perkembangan serangga, fungi, dan bakteri pada wadah penyimpanan biji. Sebagian besar serangga berkembang dengan optimal pada suhu antara 85 sampai 90 derajat Fahrenheit. Pada temperatur tersebut banyak serangga biji yang berkembangbiak mulai dari telur menjadi dewasa dalam waktu 2-3 minggu.

Ketika temperatur diturunkan menjadi di bawah 50 derajat Fahrenheit, kebanyakan serangga berhenti berkembangbiak dan bereproduksi. Oleh karena itu, menjaga agar suhu gudang biji selalu berada pada sekitar suhu 50 derajat Fahrenheit sangat penting untuk meminimalkan pertumbuhan populasi serangga di dalam wadah penyimpanan biji.

Hal yang sama juga berlaku pada fungi dan bakteri. Suhu pada gudang biji dapat diturunkan hingga di bawah suhu 50 derajat Fahrenheit untuk mempertahankan suhu gudang tetap dingin selama musim kemarau.

Ketika terjadi peningkatan kelembaban udara, bakteri dan fungi mulai mendekomposisi biji. Udara yang lembab akan memicu terjadinya proses respirasi dan peningkatan panas pada biji. Suhu yang hangat merupakan kondisi yang optimal bagi perkembangbiakan bakteri, fungi, dan serangga.

Kelembaban udara yang tinggi menyebabkan fungi dan serangga berkumpul pada permukaan biji yang mengakibatkan biji menjadi menggumpal. Biji yang menggumpal menyebabkan wadah penyimpanan biji tidak dapat diaerasi dengan baik untuk mengontrol temperatur tanpa merusak biji.

Solusi untuk memberikan perlindungan biji yang menggumpal tanpa merusaknya yaitu dengan menggunakan bor pada bagian atas tengah dari wadah penyimpanan biji yang dilakukan ke bagian wadah biji.

Untuk menghindari terjadinya migrasi kelembaban, maka perlu dilakukan monitoring secara berkala pada biji yang disimpan. Monitoring dapat dilakukan sebanyak sekali sebulan selama musim hujan dan dua kali sebulan selama musim panas untuk mengecek temperatur biji, kelembaban, dan aktivitas fungi dan serangga.

Pengambilan sampel serangga pada biji, biasanya dilakukan dengan menggunakan partisi tingkatan biji. Tingkatan (grain sampling probe) biji terdiri atas tabung kuningan berongga terkotak yang panjangnya kira-kira lima kaki.

Grain sampling probe biasanya dimasukkan dengan kedalaman tertentu dengan menggunakan bantuan tongkat. Termometer dapat digunakan untuk mengecek temperatur biji pada beberapa lokasi random di dalam wadah penyimpanan biji.